Kritikan cerita pendek
Cerita
pendek karya Manrisdayanti yang berjudul “First Love Rena” memiliki isi yang
sangat menarik. Saya sangat tertarik untuk mengulas unsur-unsur interistik di
dalam cerita pendek tersebut, yaitu mencakup judul, tema, alur, penokohan,
setting tempat dan waktu, gaya bahasa, dan sebagainya. Semua pasti memiliki
kekurangan dan kelebihan. Tetapi cerita yang baik itu memiliki kelebihan yang
lebih daripada kekurangannya. Termasuk cerita pendek karya Manrisdayanti yang
mempunyai beberapa kekurangan, yaitu diantaranya judul, penokohan alur cerita
dan gaya bahasa.
Dalam
paragraf ini saya akan mengomentari judul dari cerita pendek tersebut. Jika
cerita pendek tersebut dilihat dari judulnya saya sebagai pembaca cerita pendek
ini menganggap cerita pendekini mudah sekali ditebak jalan ceritanya, namun
setelah saya membacanya menurut saya cerita ini berbeda seperti yang saya
pikir. Sebaiknya judul cerita pendek ini dibuat yang lebih dramatis, sehingga
para pembaca lebih penasaran dengan isi cerita tersebut dan lebih tertantang
untuk membaca beserta mengulas lebih lanjut.
Dalam
paragraf ini saya akan mengomentari penokohan dari cerita pendek tersebut. Menurut
saya Marisdayanti menambahkan beberapa tokoh pembantu namun terlalu banyak
percakapan yang kurang penting. Sehingga saya sebagai pembaca merasa bosan saat
ditengah cerita pendeknya. Watak tokoh ketiga yaitu Fathan didalam cerita
tersebut tidak dijelaskan didalam cerita pendek tersebut. Sehingga sulit untuk
dimengerti. Namun tokoh pertama yaitu Rena dan tokoh kedua yaitu Reza sudah
dijelaskan secara rinci oleh Manrisdayanti.
Alur
cerita adalah rangkaian peristiwa yang dijalin untuk menggerakkan
jalannya suatu cerita. Disini Manrisdayanti menggunakan alur maju untuk cerita
pendek tersebut. Namun, dilihat dari
alur cerita pendeknya Manrisdayati menceritakan tidak terlalu rinci. Sehingga
Manrisdayanti terlihat seperti
tergesa-gesa dalam membuat cerita pendek tersebut. Dan juga, Manrisdayanti memunculkan tokoh ketiga secara tiba tiba. Bisa dilihat
dari cuplikan paragraf dalam cerita pedek karya Manrisdayanti ini : “Hari
minggu yang Rena tunggu akhirnya datang. Dia sangat siap menyambut kedatangan
Reza, walaupun jantungnya terus berdetup kencang. “Selamat siang!” terdengar
suara dari luar rumah. Denan segera Rena membukakan pintu. Rena heran dan
terkejut bukan main, Rena mengira yang datang adalah Reza tapi, Fathan. Setelah
sekian lama dia hadir kembali. Penampilanya sangat berbeda sekarang, dia
terlihat lebih dewasa.”
Dalam cerita pendek tersebut
gaya bahasa yang digunakan tidak menentu, terkadang memakai bahasa formal dan selanjutnya memakai bahasa tidak formal.
Sehingga saya sebagai pembaca cerita pendek ini sangat merasa terganggu saat
membacanya. Penggunaan bahasa “aku-an”
berubah-ubah sehingga membuat pembaca seperti saya bingung membayangkan bahwa
cerita pendek ini terlihat nyata atau hanya dibuat fiktif belaka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar