Rabu, 10 Desember 2014

Tugas Bahasa Indonesia Membuat Kritikan Cerpen



Kritikan cerita pendek
                Cerita pendek karya Manrisdayanti yang berjudul “First Love Rena” memiliki isi yang sangat menarik. Saya sangat tertarik untuk mengulas unsur-unsur interistik di dalam cerita pendek tersebut, yaitu mencakup judul, tema, alur, penokohan, setting tempat dan waktu, gaya bahasa, dan sebagainya. Semua pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi cerita yang baik itu memiliki kelebihan yang lebih daripada kekurangannya. Termasuk cerita pendek karya Manrisdayanti yang mempunyai beberapa kekurangan, yaitu diantaranya judul, penokohan alur cerita dan gaya bahasa.

                Dalam paragraf ini saya akan mengomentari judul dari cerita pendek tersebut. Jika cerita pendek tersebut dilihat dari judulnya saya sebagai pembaca cerita pendek ini menganggap cerita pendekini mudah sekali ditebak jalan ceritanya, namun setelah saya membacanya menurut saya cerita ini berbeda seperti yang saya pikir. Sebaiknya judul cerita pendek ini dibuat yang lebih dramatis, sehingga para pembaca lebih penasaran dengan isi cerita tersebut dan lebih tertantang untuk membaca beserta mengulas lebih lanjut. 
                Dalam paragraf ini saya akan mengomentari penokohan dari cerita pendek tersebut. Menurut saya Marisdayanti menambahkan beberapa tokoh pembantu namun terlalu banyak percakapan yang kurang penting. Sehingga saya sebagai pembaca merasa bosan saat ditengah cerita pendeknya. Watak tokoh ketiga yaitu Fathan didalam cerita tersebut tidak dijelaskan didalam cerita pendek tersebut. Sehingga sulit untuk dimengerti. Namun tokoh pertama yaitu Rena dan tokoh kedua yaitu Reza sudah dijelaskan secara rinci oleh Manrisdayanti.

                Alur  cerita adalah rangkaian peristiwa yang dijalin untuk menggerakkan jalannya suatu cerita. Disini Manrisdayanti menggunakan alur maju untuk cerita pendek tersebut.  Namun, dilihat dari alur cerita pendeknya Manrisdayati menceritakan tidak terlalu rinci. Sehingga Manrisdayanti  terlihat seperti tergesa-gesa dalam membuat cerita pendek tersebut. Dan juga, Manrisdayanti memunculkan  tokoh ketiga secara tiba tiba. Bisa dilihat dari cuplikan paragraf dalam cerita pedek karya Manrisdayanti ini : “Hari minggu yang Rena tunggu akhirnya datang. Dia sangat siap menyambut kedatangan Reza, walaupun jantungnya terus berdetup kencang. “Selamat siang!” terdengar suara dari luar rumah. Denan segera Rena membukakan pintu. Rena heran dan terkejut bukan main, Rena mengira yang datang adalah Reza tapi, Fathan. Setelah sekian lama dia hadir kembali. Penampilanya sangat berbeda sekarang, dia terlihat lebih dewasa.”

                Dalam cerita pendek tersebut gaya bahasa yang digunakan tidak menentu, terkadang memakai bahasa formal  dan selanjutnya memakai bahasa tidak formal. Sehingga saya sebagai pembaca cerita pendek ini sangat merasa terganggu saat membacanya.  Penggunaan bahasa “aku-an” berubah-ubah sehingga membuat pembaca seperti saya bingung membayangkan bahwa cerita pendek ini terlihat nyata atau hanya dibuat fiktif belaka.


    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar